goribihotao – Bayangkan suatu pagi kita bangun dan SPBU mulai kehabisan bensin.
Antrean kendaraan mengular.
Solar mulai sulit dicari.
Harga transportasi naik.
Distribusi barang terganggu.
Orang mulai membeli BBM sebanyak mungkin karena takut besok tidak kebagian.
Beberapa hari kemudian antrean semakin panjang.
Situasi seperti itu mungkin terdengar terlalu dramatis untuk Indonesia.
Tetapi di Yaman, kelangkaan bahan bakar bukan lagi skenario hipotetis.
Pada 2026, perang yang kembali meningkat, kerusakan infrastruktur pelabuhan, gangguan jalur perdagangan, keterbatasan devisa, serta gangguan pelayaran di kawasan Timur Tengah membuat pasokan bahan bakar negara tersebut semakin tertekan.
Sana’a Center for Strategic Studies melaporkan bahwa impor bahan bakar melalui pelabuhan Laut Merah yang dikuasai Houthi pada Januari–Mei 2026 turun sekitar 73 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Melalui pelabuhan yang dikuasai pemerintah, penurunannya mencapai sekitar 60 persen.
Akibatnya bukan sekadar bensin menjadi mahal.
Gangguan bahan bakar ikut menyebabkan pemadaman listrik yang di beberapa wilayah mencapai 18–20 jam sehari, sementara harga bahan bakar di wilayah pemerintah meningkat hingga sekitar 30 persen dibandingkan Februari 2026.
Situasinya semakin buruk karena konflik kembali meningkat.
Reuters pada awal Oktober 2026 melaporkan antrean panjang terjadi di sebuah SPBU di kawasan al-Mudhaffar dekat Taiz ketika masyarakat menunggu BBM dan tabung gas di tengah pertempuran yang kembali memanas.
Pertanyaannya kemudian cukup mengganggu:
Bisakah Indonesia mengalami krisis BBM seperti Yaman?
Jawaban pendeknya:
Indonesia tidak berada dalam kondisi seperti Yaman. Tetapi Indonesia mempunyai kelemahan energi yang membuat gangguan pasokan global tetap berpotensi menjadi masalah serius.
Dan angka-angkanya pantas membuat kita berhenti sejenak.
Yaman Bukan Sekadar Kehabisan Bensin
Pertama kita harus membereskan satu kesalahpahaman.
Krisis BBM Yaman bukan terjadi karena pemerintahnya lupa membeli minyak.
Masalahnya jauh lebih kompleks.
Yaman telah mengalami konflik berkepanjangan. Negara tersebut terfragmentasi secara politik dan militer. Infrastruktur pelabuhan rusak. Sistem keuangan bermasalah. Devisa terbatas. Jalur perdagangan terganggu.
Pada 2026 situasinya kembali memburuk akibat eskalasi konflik regional.
Sana’a Center mencatat Yaman sangat rentan terhadap gangguan keamanan regional karena negara tersebut hampir sepenuhnya bergantung pada pasokan bahan bakar eksternal.
Itulah kombinasi berbahayanya.
Negara membutuhkan energi.
Energinya datang dari luar.
Pelabuhan terganggu.
Jalur laut terganggu.
Kemampuan membeli melemah.
Kemudian perang memperparah semuanya.
Indonesia jelas belum berada dalam situasi tersebut.
Kita tidak sedang mengalami perang saudara.
Pelabuhan-pelabuhan utama kita beroperasi.
Sistem perbankan berjalan.
Pertamina mempunyai jaringan distribusi nasional.
Indonesia juga masih menghasilkan minyak sendiri.
Karena itu mengatakan “Indonesia akan menjadi seperti Yaman” jelas berlebihan.
Tetapi bukan berarti kita boleh mengabaikan pelajaran dari sana.
Karena ada satu kesamaan penting:
Indonesia juga belum mandiri dalam memenuhi kebutuhan minyak dan BBM.
Indonesia Minum BBM Lebih Banyak daripada yang Kita Produksi
Ini bagian yang jarang terasa ketika kita mengisi bensin di SPBU.
Bensin tersedia.
Solar tersedia.
SPBU ada di mana-mana.
Seolah-olah Indonesia mempunyai pasokan energi yang tidak pernah habis.
Padahal kenyataannya berbeda.
Kementerian ESDM pada Juni 2026 menyebut kebutuhan bensin nasional mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun.
Sebelum tambahan produksi dari RDMP Balikpapan, kapasitas produksi bensin domestik sekitar 14,3 juta kiloliter.
Setelah proyek Balikpapan menambah sekitar 5,5 juta kiloliter produksi, kebutuhan impor masih berada di kisaran 20 juta kiloliter bensin per tahun.
Artinya kurang lebih separuh kebutuhan bensin kita masih harus datang dari luar negeri.
Kalau menggunakan ukuran minyak secara lebih luas, persoalannya bahkan lebih terlihat.
ESDM pada April 2026 menyebut konsumsi BBM nasional sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi minyak domestik berada sekitar 600 ribu barel per hari.
Selisih kebutuhan tersebut harus ditutup melalui impor minyak mentah maupun produk BBM.
Inilah titik lemahnya.
Indonesia memang negara penghasil minyak.
Tetapi Indonesia sekarang sekaligus merupakan konsumen minyak yang jauh lebih besar daripada kemampuan produksinya sendiri.
Ironisnya, Kita Pernah Menjadi Negara Eksportir Minyak
Bagi generasi lama, situasi ini terasa ironis.
Indonesia pernah identik dengan negara minyak.
Kita bahkan pernah menjadi anggota OPEC.
Tetapi produksi minyak nasional mengalami penurunan panjang sementara konsumsi terus meningkat.
Nota Keuangan RAPBN 2026 mencatat lifting minyak Indonesia turun dari sekitar 707 ribu barel per hari pada 2020 menjadi 579,7 ribu barel per hari pada 2024.
Pemerintah sendiri mengakui penurunan lifting tersebut menyebabkan Indonesia harus melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan domestik dan berkontribusi terhadap defisit perdagangan sektor migas.
Jadi persoalan ketahanan energi Indonesia bukan teori konspirasi.
Pemerintah sendiri mengakuinya.
Kita membutuhkan lebih banyak minyak daripada yang mampu kita produksi.
Yang Lebih Mengkhawatirkan: Bantalan Stok Kita Tidak Tebal
Sekarang masuk ke angka yang menurut saya paling menarik.
Berapa lama Indonesia bisa bertahan kalau pasokan impor BBM tiba-tiba terganggu?
Laporan Kinerja Ditjen Migas 2025 mencatat rata-rata cadangan operasional BBM sekitar 20,76 hari.
Untuk LPG sekitar 14,5 hari.
Pada Maret 2026, stok berbeda-beda tergantung jenis bahan bakarnya.
Pemerintah menyebut stok RON 90 sekitar 24,39 hari, RON 92 sekitar 28 hari, RON 98 sekitar 31 hari, solar subsidi sekitar 16,41 hari, solar CN53 sekitar 46 hari dan avtur sekitar 38 hari.
Jadi jangan membayangkan Indonesia mempunyai gudang raksasa berisi BBM untuk bertahun-tahun.
Sistem energi modern memang bekerja dengan rantai pasokan yang terus bergerak.
Kapal datang.
Minyak dibongkar.
Kilang beroperasi.
BBM didistribusikan.
SPBU menerima pasokan.
Masyarakat membeli.
Selama rantai tersebut berjalan, tidak ada masalah.
Persoalannya muncul ketika salah satu mata rantainya berhenti cukup lama.
Pemerintah Sendiri Mengakui Storage Kita Perlu Diperkuat
Menariknya, pemerintah juga tidak menyangkal masalah tersebut.
Pada Januari 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan kapasitas penyimpanan BBM Indonesia masih perlu diperkuat karena stok ketika itu sekitar 21 hari.
Pemerintah membandingkannya dengan standar internasional yang disebut berada pada level sekitar 90 hari.
Perbandingan tersebut memang harus dibaca hati-hati karena definisi strategic petroleum reserve, commercial stock dan operational stock dapat berbeda antarnegara.
Tetapi pesan besarnya jelas.
Bantalan energi Indonesia belum terlalu tebal.
Dan ketika kebutuhan impor kita masih besar, ketebalan bantalan itu menjadi sangat penting.
Bagaimana Kalau Selat Hormuz Bermasalah?
Sekarang kita masuk ke skenario yang jauh lebih realistis dibanding perang di Indonesia.
Indonesia tidak perlu mengalami perang saudara seperti Yaman untuk terkena krisis energi.
Cukup terjadi gangguan besar di jalur minyak dunia.
Selat Hormuz adalah salah satu titik paling penting dalam perdagangan energi global.
Begitu pula Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Konflik di kawasan tersebut bisa meningkatkan biaya pengiriman, asuransi kapal, harga minyak, bahkan mengganggu pasokan fisik.
Reuters pada Juli 2026 melaporkan bahwa ancaman penutupan Bab el-Mandeb dapat mendorong harga minyak naik dan mengganggu pasokan karena jalur tersebut merupakan salah satu rute penting perdagangan minyak dunia.
Indonesia mungkin tidak langsung kehabisan bensin.
Tetapi harga minyak internasional bisa melonjak.
Biaya impor naik.
Ongkos kapal naik.
Tekanan terhadap rupiah meningkat.
Subsidi dan kompensasi energi membengkak.
APBN ikut tertekan.
Jadi krisis energi tidak harus berbentuk:
“SPBU kosong total.”
Bisa saja bentuk pertamanya adalah:
“Negara masih punya BBM, tetapi biaya mempertahankan harga BBM menjadi semakin mahal.”
Indonesia Punya Senjata yang Tidak Dimiliki Yaman
Namun kita juga harus adil.
Indonesia mempunyai beberapa pertahanan yang membuat posisi kita jauh lebih kuat dibandingkan Yaman.
Indonesia masih mempunyai produksi minyak domestik.
Kita mempunyai kilang.
Kita mempunyai Pertamina dengan jaringan penyimpanan dan distribusi nasional.
Kita juga mempunyai sumber energi lain dalam jumlah besar.
Indonesia adalah produsen batu bara besar.
Kita mempunyai gas.
Kita mempunyai panas bumi.
Kita mempunyai potensi hidro.
Dan yang semakin penting, kita mempunyai kelapa sawit yang sekarang digunakan untuk mengurangi ketergantungan solar impor melalui biodiesel.
Pemerintah pada 2026 menjalankan program B50, yaitu pencampuran biodiesel berbasis sawit sebesar 50 persen pada bahan bakar diesel.
Tujuannya jelas:
mengurangi impor bahan bakar fosil.
Pemerintah bahkan mulai mengkaji E50 untuk bensin setelah implementasi B50.
Artinya Indonesia sebenarnya mempunyai banyak kartu.
Masalahnya tinggal apakah kartu tersebut dimainkan dengan benar.
Tetapi Jangan Terlalu Cepat Teriak “Swasembada Energi”
Di sinilah slogan politik harus bertemu kalkulator.
Pemerintah sering berbicara mengenai swasembada energi.
Bagus.
Siapa yang tidak mau?
Tetapi hari ini realitasnya tetap sederhana:
Indonesia masih mengimpor sekitar separuh kebutuhan bensinnya.
Kebutuhan bensin sekitar 40 juta kiloliter.
Produksi domestik setelah tambahan Balikpapan kira-kira 20 juta kiloliter.
Sisanya masih impor.
Jadi swasembada belum menjadi kondisi hari ini.
Ia masih menjadi target.
Dan selama target tersebut belum tercapai, ketahanan energi Indonesia masih berhubungan erat dengan kapal tanker yang datang dari luar negeri.
Masalahnya Bukan Cuma Ada Minyak atau Tidak
Ada satu aspek lain yang sering terlupakan.
Ketahanan energi mempunyai beberapa lapisan.
Pertama adalah availability: apakah minyaknya tersedia?
Kedua accessibility: apakah Indonesia bisa mendapatkannya?
Ketiga affordability: apakah harganya masih mampu kita bayar?
Keempat adalah kemampuan mendistribusikannya.
Bayangkan minyak dunia tersedia tetapi harga melonjak sangat tinggi.
Secara teknis Indonesia tidak mengalami kelangkaan.
Kita masih bisa membeli.
Tetapi APBN bisa berdarah-darah mempertahankan subsidi dan kompensasi.
Kalau harga akhirnya diteruskan kepada masyarakat, biaya transportasi naik.
Logistik naik.
Harga makanan ikut naik.
Inflasi meningkat.
Daya beli turun.
Jadi masyarakat tetap merasakan “krisis energi” meskipun SPBU tidak kosong.
Yaman Memberikan Pelajaran yang Sangat Mahal
Inilah sebenarnya pelajaran terbesar dari Yaman.
Energi adalah salah satu sistem yang baru kita sadari pentingnya ketika berhenti bekerja.
Ketika BBM hilang, yang berhenti bukan hanya mobil.
Truk distribusi berhenti.
Generator berhenti.
Pompa air bisa berhenti.
Rumah sakit terganggu.
Produksi barang terganggu.
Harga pangan naik.
Transportasi masyarakat terganggu.
Di Yaman, gangguan bahan bakar bahkan ikut berkontribusi terhadap pemadaman listrik hingga belasan jam sehari di sejumlah wilayah.
Energi adalah darah ekonomi modern.
Kalau alirannya berhenti, organ lain mulai ikut mati.
Jadi Apakah Indonesia Bisa Mengalami Krisis BBM?
Bisa.
Tetapi bentuk dan penyebabnya kemungkinan besar tidak akan sama dengan Yaman.
Skenario Indonesia yang lebih realistis bukan perang saudara menghancurkan pelabuhan.
Risikonya justru kombinasi beberapa hal.
Produksi minyak domestik tidak naik sesuai kebutuhan.
Impor tetap tinggi.
Kapasitas penyimpanan tidak berkembang cukup cepat.
Konflik geopolitik mengganggu jalur minyak.
Harga minyak melonjak.
Rupiah melemah.
Biaya impor membengkak.
Kemudian terjadi gangguan logistik atau keterlambatan pengadaan.
Kalau beberapa faktor tersebut datang bersamaan, Indonesia bisa menghadapi tekanan BBM serius.
Dan karena stok operasional kita dihitung dalam hitungan minggu, bukan bulan yang panjang, gangguan berkepanjangan jelas bukan sesuatu yang boleh dianggap enteng.
Kabar Baiknya: Kita Masih Punya Waktu
Indonesia belum berada di bibir krisis BBM seperti Yaman.
Pemerintah bahkan menyatakan pasokan minyak mentah untuk kebutuhan 2026 telah diamankan melalui diversifikasi sumber impor, termasuk penjajakan pasokan dari Rusia, Afrika, Nigeria, Amerika Serikat dan sumber lainnya.
RDMP Balikpapan juga menambah kemampuan produksi bensin domestik.
Program biodiesel mengurangi kebutuhan solar fosil.
Bioetanol sedang dikembangkan.
Produksi minyak sedang didorong.
Storage ingin diperbesar.
Diversifikasi pemasok juga dilakukan.
Semua itu masuk akal.
Tetapi ada perbedaan besar antara program dengan hasil.
Ketahanan energi tidak bisa dibangun menggunakan konferensi pers.
Ukurannya sederhana.
Berapa produksi minyak domestik?
Berapa kapasitas kilang?
Berapa impor BBM?
Berapa hari cadangan?
Berapa sumber negara pemasok?
Berapa kapasitas biofuel?
Berapa konsumsi minyak per kapita?
Dan seberapa cepat sistem energi Indonesia bisa beradaptasi ketika salah satu jalur pasokan terganggu?
Itulah dashboard yang seharusnya terus dilihat publik.
Ancaman Terbesar Indonesia Justru Rasa Nyaman
Karena selama ini BBM selalu tersedia, kita merasa sistemnya aman.
Datang ke SPBU.
Tap kartu.
Isi bensin.
Pulang.
Kita tidak melihat kapal tanker.
Tidak melihat kontrak impor.
Tidak melihat cadangan terminal.
Tidak melihat kilang.
Tidak melihat perdagangan minyak internasional.
Tidak melihat risiko geopolitik.
Padahal di belakang satu liter bensin terdapat rantai pasokan global yang sangat panjang.
Yaman memperlihatkan apa yang terjadi ketika rantai tersebut pecah.
Indonesia memang jauh lebih kuat.
Ekonominya jauh lebih besar.
Institusinya jauh lebih stabil.
Infrastruktur energinya jauh lebih lengkap.
Sumber energi domestiknya jauh lebih beragam.
Karena itu membandingkan Indonesia dan Yaman secara langsung akan menyesatkan.
Tetapi mengatakan “Indonesia pasti aman” juga sama cerobohnya.
Kita masih mengimpor sekitar separuh kebutuhan bensin.
Konsumsi energi terus besar.
Produksi minyak domestik belum mampu mengejar kebutuhan.
Dan bantalan stok operasional kita masih berada dalam hitungan beberapa minggu.
Itu bukan alasan untuk panik.
Itu alasan untuk berhenti menganggap ketahanan energi sebagai slogan.
Indonesia Tidak Akan Menjadi Yaman, Kecuali Kita Mengabaikan Peringatannya
Krisis Yaman seharusnya tidak digunakan untuk menakut-nakuti masyarakat Indonesia.
Kondisi kedua negara terlalu berbeda.
Tetapi Yaman memberikan demonstrasi ekstrem mengenai satu prinsip sederhana:
negara yang terlalu bergantung pada pasokan energi dari luar akan menjadi sangat rentan ketika dunia berhenti bekerja seperti biasanya.
Hari ini kapal masih datang.
Pasar minyak masih berfungsi.
SPBU masih terisi.
Maka inilah saat terbaik memperbesar cadangan.
Meningkatkan produksi.
Memperbaiki kilang.
Mengembangkan transportasi publik.
Mempercepat kendaraan listrik untuk penggunaan yang memang cocok.
Mengembangkan biofuel tanpa menghancurkan tata kelola pangan dan lingkungan.
Mendiversifikasi negara pemasok.
Dan mengurangi jumlah energi yang harus kita impor.
Jangan menunggu antrean SPBU mengular baru bicara ketahanan energi.
Karena pada saat sebuah negara sudah berebut bensin di pompa, kebijakan energinya sebenarnya sudah terlambat bertahun-tahun.
Pertanyaan yang tepat karena itu bukan:
“Apakah minggu depan Indonesia akan mengalami krisis BBM seperti Yaman?”
Tidak ada dasar saat ini untuk mengatakan demikian.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Kalau suatu hari jalur impor minyak dunia terganggu selama satu atau dua bulan, seberapa siap Indonesia?”
Dengan ketergantungan impor bensin yang masih sekitar separuh kebutuhan dan cadangan operasional yang secara historis masih sekitar tiga minggu, pertanyaan tersebut belum pantas dijawab dengan santai.
Yaman sedang menunjukkan kepada dunia bagaimana mahalnya harga yang harus dibayar ketika energi berubah dari komoditas menjadi barang langka.
Indonesia masih mempunyai kesempatan agar pelajaran itu cukup kita baca.
Tidak perlu kita alami sendiri.
Referensi
Sana’a Center for Strategic Studies. The Economy — The Yemen Review Quarterly: April–June 2026.
https://sanaacenter.org/the-yemen-review/april-june-2026/28066
Reuters, 5 Oktober 2026. Yemeni Government Forces Drive Houthis from Bab el-Mandeb Strait.
https://www.internazionale.it/ultime-notizie-reuters/2026/10/06/yemeni-government-forces-seize-district-by-bab-el-mandeb-military-sources-say
Reuters, Juli 2026. Houthi Red Sea Blockade Would Lift Oil Prices, but Workarounds Could Limit Impact.
https://www.investing.com/news/commodities-news/houthi-red-sea-blockade-would-lift-oil-prices-but-workarounds-could-limit-impact-4801778
Kementerian ESDM RI. Implementasi Program E20, Pemerintah Butuh 4 Juta Kiloliter Etanol, 27 Juni 2026.
https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/implementasi-program-e20-pemerintah-butuh-4-juta-kiloliter-etanol
Kementerian ESDM RI. Laporan Kinerja Ditjen Minyak dan Gas Bumi Tahun 2025.
https://www.esdm.go.id/assets/media/content/content-laporan-kinerja-ditjen-minyak-dan-gas-bumi-tahun-2025.pdf
Kementerian ESDM RI. Menteri Bahlil Lapor Presiden, Stok BBM dan LPG Aman Jelang Lebaran, 14 Maret 2026.
https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/menteri-bahlil-lapor-presiden-stok-bbm-dan-lpg-aman-jelang-lebaran
Kementerian ESDM RI. Kurangi Ketergantungan Impor, Pemerintah Perkuat Kedaulatan Energi Nasional, Januari 2026.
https://www.esdm.go.id/en/media-center/news-archives/kurangi-ketergantungan-impor-pemerintah-perkuat-kedaulatan-energi-nasional
Kementerian ESDM RI. Rusia Minat Investasi Kilang dan Storage Minyak, Siap Perkuat Ketahanan Energi RI, April 2026.
https://www.esdm.go.id/en/media-center/news-archives/rusia-minat-investasi-kilang-dan-storage-minyak-siap-perkuat-ketahanan-energi-ri
Kementerian Keuangan RI. Nota Keuangan RAPBN Tahun Anggaran 2026.
https://anggaran.kemenkeu.go.id/
Kementerian ESDM RI. Usai B50, Pemerintah Siapkan E50 Langkah Baru Kurangi Ketergantungan BBM Impor, September 2026.
https://esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/usai-b50-pemerintah-siapkan-e50-langkah-baru-kurangi-ketergantungan-bbm-impor