goribihotao – Belakangan ini istilah Gentengisasi mulai ramai diperbincangkan setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan gagasan agar rumah-rumah masyarakat yang masih menggunakan atap seng secara bertahap beralih menggunakan genteng. Gagasan tersebut bukan sekadar persoalan mengganti material bangunan, melainkan menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan hunian yang lebih sehat, nyaman, sekaligus tahan terhadap cuaca tropis Indonesia.
Bagi sebagian masyarakat, terutama yang tinggal di daerah perkotaan, penggunaan atap seng mungkin sudah dianggap biasa. Namun bagi warga yang tinggal di kawasan dengan suhu udara tinggi, seng sering kali menjadi penyebab utama rumah terasa sangat panas ketika siang hari. Sebaliknya saat hujan turun deras, suara benturan air di atas seng bisa sangat bising sehingga mengganggu aktivitas penghuni rumah.
Karena alasan itulah, konsep Gentengisasi mulai dikaitkan dengan berbagai program peningkatan kualitas rumah yang telah dijalankan pemerintah, salah satunya Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai program bedah rumah.
Muncul pertanyaan di tengah masyarakat. Apakah semua rumah beratap seng akan mendapatkan bantuan? Apakah pemerintah akan mengganti seluruh atap seng menjadi genteng secara gratis? Atau justru program ini hanya diperuntukkan bagi kelompok masyarakat tertentu?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.
Table of Contents
Apa Itu Program Gentengisasi?
Istilah Gentengisasi sebenarnya bukan nama resmi sebuah program bantuan yang berdiri sendiri. Kata tersebut lebih menggambarkan gagasan pemerintah untuk mendorong penggunaan atap genteng dibandingkan atap seng, terutama pada rumah-rumah masyarakat yang masuk kategori tidak layak huni.
Presiden Prabowo beberapa kali menyinggung pentingnya penggunaan genteng berbahan tanah liat atau beton karena dinilai lebih sesuai dengan karakter iklim Indonesia.
Indonesia merupakan negara tropis yang menerima paparan sinar matahari hampir sepanjang tahun. Atap seng memang memiliki harga yang relatif murah serta pemasangannya lebih cepat. Namun material logam tersebut juga sangat mudah menyerap panas.
Akibatnya, suhu di dalam rumah dapat meningkat beberapa derajat dibandingkan rumah yang menggunakan genteng.
Sebaliknya, genteng memiliki kemampuan meredam panas lebih baik sehingga suhu ruangan cenderung lebih nyaman tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pendingin ruangan.
Selain faktor kenyamanan, penggunaan genteng juga dinilai mampu mengurangi kebisingan ketika hujan deras.
Bagi keluarga yang tinggal di rumah sederhana, perubahan kecil seperti ini dapat memberikan dampak besar terhadap kualitas hidup sehari-hari.
Mengapa Atap Seng Menjadi Sorotan?
Selama bertahun-tahun, atap seng menjadi pilihan utama masyarakat karena beberapa alasan.
Harga seng relatif murah.
Pemasangannya cepat.
Materialnya mudah ditemukan hampir di seluruh daerah Indonesia.
Namun di balik berbagai kelebihan tersebut, seng juga memiliki sejumlah kekurangan.
Saat cuaca terik, suhu permukaan seng bisa meningkat sangat tinggi. Panas tersebut kemudian diteruskan ke dalam rumah sehingga ruangan terasa gerah meskipun ventilasi sudah cukup baik.
Ketika hujan turun, suara benturan air pada lembaran seng juga jauh lebih keras dibandingkan genteng tanah liat maupun beton.
Pada daerah pesisir, seng juga lebih mudah mengalami korosi akibat kadar garam udara yang tinggi.
Karena alasan-alasan inilah pemerintah mulai mendorong penggunaan material yang dinilai lebih ramah terhadap kondisi iklim Indonesia.
Namun perlu dipahami bahwa pemerintah tidak melarang penggunaan seng.
Yang didorong adalah peningkatan kualitas rumah bagi masyarakat yang memang membutuhkan bantuan.
Hubungan Gentengisasi dengan Program Bedah Rumah
Di sinilah banyak masyarakat mulai salah memahami informasi yang beredar.
Program Gentengisasi bukan berarti pemerintah akan datang ke setiap rumah untuk mengganti atap seng menjadi genteng.
Yang sebenarnya terjadi adalah gagasan tersebut akan diintegrasikan ke dalam program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).
BSPS merupakan program Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman yang sebelumnya dikenal berada di bawah Kementerian PUPR.
Program ini telah berjalan selama bertahun-tahun untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah memperbaiki rumah yang tidak layak huni.
Bantuan diberikan bukan dalam bentuk rumah jadi, melainkan stimulan agar masyarakat dapat memperbaiki rumahnya secara swadaya.
Apabila kondisi rumah memang membutuhkan penggantian atap, maka konsep Gentengisasi dapat diterapkan dalam proses renovasi tersebut.
Artinya, penggantian atap menjadi genteng merupakan salah satu bentuk peningkatan kualitas rumah, bukan program yang berdiri sendiri.
Pemerintah Menargetkan Ratusan Ribu Rumah di Program Gentengisasi
Pada tahun 2026, pemerintah meningkatkan target program BSPS secara signifikan.
Jumlah rumah yang ditargetkan memperoleh bantuan mencapai sekitar 400 ribu unit di seluruh Indonesia.
Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan realisasi beberapa tahun sebelumnya.
Target tersebut menunjukkan bahwa pemerintah ingin mempercepat pengurangan jumlah rumah tidak layak huni yang masih cukup banyak tersebar di berbagai daerah.
Selain meningkatkan kualitas tempat tinggal masyarakat, program ini juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi daerah.
Setiap rumah yang direnovasi membutuhkan tukang bangunan, toko material, pengrajin genteng, produsen semen, kayu, hingga pelaku usaha kecil lainnya.
Dengan kata lain, satu rumah yang diperbaiki tidak hanya memberikan manfaat kepada pemilik rumah, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Siapa yang Berhak Mendapatkan Bantuan Gentengisasi?
Pertanyaan ini menjadi yang paling sering muncul.
Jawabannya, tidak semua masyarakat otomatis menjadi penerima bantuan.
Program BSPS memiliki sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi.
Secara umum, penerima merupakan masyarakat berpenghasilan rendah yang menempati rumah tidak layak huni dan memiliki atau menguasai tanah secara sah.
Rumah tersebut harus benar-benar menjadi tempat tinggal utama, bukan rumah kedua maupun bangunan yang disewakan.
Selain itu, calon penerima belum pernah memperoleh bantuan perumahan serupa dari pemerintah dalam kurun waktu tertentu.
Data calon penerima juga harus sesuai dengan pendataan pemerintah daerah serta masuk dalam basis data yang digunakan pemerintah pusat.
Karena itulah, masyarakat tidak bisa sekadar mengajukan permohonan secara langsung tanpa melalui proses verifikasi.
Bagaimana Cara Masyarakat Bisa Diusulkan?
Proses penetapan penerima bantuan biasanya dimulai dari pemerintah daerah.
Petugas melakukan pendataan terhadap rumah-rumah yang dinilai tidak layak huni.
Data tersebut kemudian diverifikasi untuk memastikan kondisi rumah memang memenuhi kriteria.
Selanjutnya dilakukan pengecekan dokumen kepemilikan atau penguasaan lahan, kondisi ekonomi keluarga, hingga kelengkapan administrasi lainnya.
Apabila seluruh persyaratan telah terpenuhi dan kuota masih tersedia, nama calon penerima akan diusulkan ke pemerintah pusat untuk mendapatkan persetujuan.
Karena kuota bantuan setiap daerah berbeda-beda, tidak semua rumah yang diusulkan dapat langsung memperoleh bantuan pada tahun yang sama.
Sebagian harus menunggu hingga kuota berikutnya tersedia.
Besaran Bantuan yang Diterima
Dalam program BSPS, pemerintah tidak memberikan uang tunai secara bebas kepada penerima.
Nilai bantuan sekitar Rp20 juta per rumah digunakan untuk pembelian bahan bangunan serta pembayaran upah kerja sesuai ketentuan yang berlaku.
Secara umum, sebagian besar dana dialokasikan untuk material bangunan, sedangkan sisanya digunakan untuk biaya tenaga kerja.
Skema tersebut dibuat agar bantuan benar-benar digunakan untuk memperbaiki rumah, bukan dialihkan ke kebutuhan lain.
Jika dalam proses renovasi diperlukan penggantian atap, maka material genteng dapat menjadi salah satu komponen yang digunakan sesuai hasil perencanaan renovasi rumah.
Gentengisasi Bukan Sekadar Mengganti Atap
Jika mendengar kata Gentengisasi, sebagian orang mungkin langsung membayangkan petugas datang ke rumah lalu mengganti seluruh atap seng menjadi genteng dalam hitungan hari. Kenyataannya, konsep yang sedang didorong pemerintah jauh lebih luas dibanding sekadar mengganti material penutup atap.
Dalam dunia konstruksi, sebuah rumah merupakan satu kesatuan sistem. Atap hanyalah salah satu bagian dari bangunan. Ketika jenis atap diubah, struktur penyangga, rangka, kemiringan, hingga kemampuan dinding menopang beban juga harus diperhitungkan.
Genteng tanah liat, misalnya, memiliki bobot yang jauh lebih berat dibandingkan lembaran seng. Karena itu, rumah yang sebelumnya menggunakan atap seng belum tentu bisa langsung dipasangi genteng tanpa pemeriksaan struktur terlebih dahulu.
Jika rangka atap sudah lapuk atau menggunakan material yang tidak cukup kuat, penggantian atap justru dapat membahayakan penghuni rumah.
Inilah sebabnya program bedah rumah selalu diawali dengan survei teknis. Pemerintah bersama tenaga pendamping akan melihat kondisi bangunan secara menyeluruh sebelum menentukan jenis perbaikan yang paling sesuai.
Pada beberapa rumah, yang dibutuhkan bukan hanya penggantian atap, tetapi juga perbaikan pondasi, penguatan kolom, pergantian rangka kayu, hingga perbaikan lantai dan sanitasi.
Dengan kata lain, Gentengisasi merupakan bagian dari peningkatan kualitas rumah, bukan satu-satunya pekerjaan yang dilakukan.
Mengapa Pemerintah Lebih Memilih Genteng?
Pilihan penggunaan genteng bukan tanpa alasan. Indonesia memiliki iklim tropis dengan intensitas panas matahari yang cukup tinggi sepanjang tahun.
Material seng memang lebih murah dan ringan, tetapi sifat logam membuatnya mudah menyerap panas.
Ketika matahari bersinar terik sejak pagi hingga siang, suhu permukaan seng bisa meningkat sangat tinggi. Panas tersebut kemudian diteruskan ke ruang di bawahnya sehingga rumah menjadi gerah.
Akibatnya, banyak keluarga yang akhirnya memasang kipas angin atau pendingin ruangan lebih lama. Hal ini tentu berdampak pada konsumsi listrik.
Genteng memiliki karakteristik yang berbeda.
Material tanah liat maupun beton mampu menahan panas lebih baik sehingga suhu ruangan cenderung lebih stabil.
Selain itu, suara hujan yang mengenai genteng juga jauh lebih lembut dibandingkan seng.
Bagi keluarga yang tinggal di daerah dengan curah hujan tinggi, perubahan tersebut bisa meningkatkan kenyamanan saat beristirahat maupun bekerja dari rumah.
Di sisi lain, genteng juga memiliki umur pakai yang relatif panjang apabila dipasang dengan benar dan dirawat secara berkala.
Dampaknya Tidak Hanya untuk Pemilik Rumah
Program bedah rumah sebenarnya memiliki efek ekonomi yang cukup besar.
Ketika satu rumah direnovasi, banyak pihak yang ikut memperoleh manfaat.
Tukang bangunan memperoleh pekerjaan.
Pengrajin genteng menerima pesanan.
Toko material bangunan meningkatkan penjualan.
Produsen semen, pasir, batu bata, hingga kayu juga ikut merasakan dampaknya.
Inilah yang sering disebut sebagai multiplier effect dalam pembangunan.
Uang yang dikeluarkan pemerintah tidak berhenti pada penerima bantuan, tetapi terus berputar di masyarakat.
Apalagi jika material yang digunakan berasal dari produsen lokal.
Di sejumlah daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, hingga sebagian wilayah Sumatera, industri genteng tanah liat masih menjadi mata pencaharian ribuan keluarga.
Apabila permintaan meningkat karena program renovasi rumah, maka industri kecil tersebut berpotensi kembali bergairah.
Begitu pula dengan pelaku usaha angkutan material, toko bangunan skala kecil, hingga UMKM yang menyediakan kebutuhan konstruksi.
Apakah Semua Rumah Beratap Seng Akan Diganti?
Jawabannya tentu tidak.
Masih banyak informasi yang beredar di media sosial seolah-olah seluruh rumah yang menggunakan atap seng akan memperoleh bantuan pemerintah.
Padahal, kebijakan tersebut tidak pernah disampaikan demikian.
Program bedah rumah memiliki sasaran yang jelas, yaitu masyarakat berpenghasilan rendah yang tinggal di rumah tidak layak huni.
Artinya, apabila seseorang memiliki rumah permanen dengan kondisi baik, hanya saja menggunakan atap seng karena pilihan pribadi, rumah tersebut tidak otomatis masuk dalam daftar penerima bantuan.
Begitu pula rumah-rumah yang digunakan sebagai tempat usaha, rumah kontrakan, ataupun rumah kedua.
Prioritas pemerintah tetap diberikan kepada keluarga yang benar-benar membutuhkan bantuan agar dapat tinggal di rumah yang aman, sehat, dan layak huni.
Proses Renovasi Dilakukan Secara Bertahap
Program BSPS tidak dikerjakan seperti proyek pembangunan perumahan yang seluruhnya diselesaikan kontraktor.
Konsep utama program ini adalah swadaya masyarakat.
Penerima bantuan ikut terlibat dalam proses pembangunan.
Di banyak daerah, tetangga bahkan ikut membantu pekerjaan secara gotong royong.
Model seperti ini sudah lama diterapkan dalam program BSPS karena dinilai mampu menekan biaya sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap rumah yang telah direnovasi.
Pemerintah hanya memberikan stimulan agar masyarakat dapat meningkatkan kualitas rumahnya.
Dengan demikian, hasil pembangunan tidak hanya bergantung pada dana bantuan, tetapi juga partisipasi masyarakat itu sendiri.
Tantangan Program Gentengisasi
Meskipun memiliki tujuan yang baik, pelaksanaan Gentengisasi tentu tidak lepas dari tantangan.
Indonesia merupakan negara yang sangat luas dengan karakter wilayah yang berbeda-beda.
Di daerah pegunungan, penggunaan genteng mungkin sangat ideal.
Namun di beberapa kawasan pesisir yang memiliki angin sangat kencang, pemilihan jenis atap harus mempertimbangkan kondisi lingkungan.
Begitu pula di wilayah rawan gempa.
Material atap yang terlalu berat memerlukan struktur bangunan yang benar-benar kuat.
Karena itulah pemerintah tidak dapat menerapkan satu jenis material secara seragam untuk seluruh Indonesia.
Pendekatan teknis tetap harus mempertimbangkan kondisi geografis, budaya, hingga kemampuan struktur bangunan masing-masing daerah.
Selain itu, tantangan lain datang dari kebutuhan anggaran.
Meskipun pemerintah menargetkan ratusan ribu rumah direnovasi pada 2026, jumlah rumah tidak layak huni di Indonesia masih mencapai jutaan unit.
Artinya, program ini membutuhkan waktu bertahun-tahun agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.
Syarat Umum Penerima Program Bedah Rumah (BSPS)
Meskipun istilah Gentengisasi tengah menjadi perhatian, dasar pelaksanaannya tetap mengacu pada ketentuan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Karena itu, masyarakat yang berharap mendapatkan bantuan perlu memahami bahwa penerima akan melalui proses seleksi dan verifikasi.
| Kriteria | Penjelasan |
|---|---|
| Warga Negara Indonesia | Memiliki identitas kependudukan yang sah. |
| Berpenghasilan rendah | Masuk kategori masyarakat berpenghasilan rendah sesuai ketentuan pemerintah. |
| Memiliki atau menguasai rumah | Rumah ditempati sendiri dan memiliki bukti kepemilikan atau penguasaan lahan yang sah. |
| Rumah tidak layak huni | Kondisi rumah membutuhkan perbaikan pada atap, lantai, dinding, atau bagian struktur lainnya. |
| Belum pernah menerima bantuan sejenis | Tidak sedang atau belum pernah menerima bantuan renovasi rumah dengan skema yang sama dalam periode yang ditentukan. |
| Masuk hasil pendataan pemerintah daerah | Diusulkan melalui pemerintah desa, kelurahan, kecamatan, hingga pemerintah daerah sebelum diverifikasi pemerintah pusat. |
Perlu dipahami bahwa syarat tersebut dapat mengalami penyesuaian mengikuti regulasi terbaru yang diterbitkan pemerintah setiap tahunnya. Oleh karena itu, masyarakat disarankan memperoleh informasi langsung dari pemerintah daerah atau dinas yang membidangi perumahan.
Harapan Baru Bagi Rumah Tidak Layak Huni
Program Gentengisasi sebenarnya membawa pesan yang lebih besar dibandingkan sekadar mengganti material bangunan. Pemerintah ingin mendorong perubahan cara pandang bahwa rumah layak huni bukan hanya soal memiliki tempat berteduh, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang sehat, aman, dan nyaman bagi seluruh anggota keluarga.
Di berbagai daerah, masih banyak rumah yang mengalami kebocoran setiap musim hujan. Sebagian lainnya memiliki atap yang sudah lapuk sehingga membahayakan penghuni ketika angin kencang datang. Tidak sedikit pula keluarga yang harus bertahan dengan suhu ruangan yang sangat panas karena menggunakan atap seng tanpa plafon.
Jika kondisi seperti ini dapat diperbaiki secara bertahap, kualitas hidup masyarakat juga ikut meningkat.
Anak-anak memiliki tempat belajar yang lebih nyaman.
Orang tua dapat beristirahat tanpa khawatir atap bocor saat hujan deras.
Lansia juga bisa tinggal di rumah yang lebih aman tanpa takut bagian bangunan runtuh akibat usia konstruksi yang sudah tua.
Dalam konteks pembangunan nasional, manfaat tersebut jauh lebih besar daripada sekadar angka jumlah rumah yang berhasil direnovasi.
Program Ini Juga Menggerakkan Ekonomi Daerah
Di balik setiap rumah yang direnovasi, terdapat aktivitas ekonomi yang ikut bergerak.
Permintaan terhadap semen, pasir, batu bata, besi, kayu, hingga genteng meningkat.
Toko bangunan memperoleh tambahan pelanggan.
Pengrajin genteng yang selama ini menghadapi persaingan material modern berpeluang kembali memperoleh pesanan.
Begitu pula dengan tukang bangunan, pekerja harian, sopir pengangkut material, hingga pelaku UMKM yang berada di sekitar lokasi pembangunan.
Artinya, satu program bedah rumah tidak hanya menyentuh penerima bantuan, tetapi juga menciptakan efek berantai terhadap perekonomian masyarakat.
Semakin banyak rumah yang direnovasi, semakin besar pula perputaran uang di sektor konstruksi skala kecil yang selama ini menjadi sumber penghasilan banyak keluarga.
Gentengisasi Perlu Disesuaikan dengan Kondisi Daerah
Meskipun penggunaan genteng memiliki banyak kelebihan, penerapannya tetap harus mempertimbangkan kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam.
Di wilayah pegunungan, genteng tanah liat dapat menjadi pilihan ideal karena mampu menjaga suhu rumah tetap sejuk.
Namun di beberapa daerah pesisir yang memiliki angin sangat kencang, jenis atap harus disesuaikan agar tidak mudah terangkat ketika cuaca ekstrem.
Begitu pula di kawasan rawan gempa.
Struktur rumah harus benar-benar diperiksa sebelum dilakukan penggantian material atap yang memiliki bobot lebih berat dibandingkan seng.
Karena itu, pendekatan pemerintah tidak dapat disamaratakan.
Setiap rumah membutuhkan penilaian teknis sehingga renovasi yang dilakukan benar-benar meningkatkan kualitas bangunan, bukan justru menimbulkan risiko baru bagi penghuninya.
Tantangan Terbesar Masih Ada pada Jumlah Rumah Tidak Layak Huni
Target sekitar 400 ribu rumah yang akan diperbaiki pada 2026 merupakan langkah besar pemerintah dalam mempercepat penanganan rumah tidak layak huni.
Namun apabila dibandingkan dengan jumlah kebutuhan secara nasional, angka tersebut masih menjadi awal dari pekerjaan yang jauh lebih besar.
Masih terdapat jutaan rumah di berbagai daerah yang membutuhkan perbaikan, baik pada bagian atap, lantai, dinding, sanitasi, maupun struktur bangunan.
Karena keterbatasan anggaran, pemerintah harus menentukan prioritas agar bantuan benar-benar diterima oleh masyarakat yang paling membutuhkan.
Itulah sebabnya proses pendataan, verifikasi, hingga validasi penerima menjadi tahapan yang sangat penting dalam program ini.
Tajuk: Gentengisasi Bukan Sekadar Ganti Atap, tetapi Investasi Kualitas Hidup
Ramainya pembahasan mengenai Gentengisasi menunjukkan bahwa masyarakat mulai memberi perhatian lebih terhadap kualitas hunian, bukan sekadar memiliki tempat tinggal. Di balik rencana penggantian atap seng menjadi genteng, pemerintah sebenarnya ingin mendorong terciptanya rumah yang lebih sehat, lebih nyaman, dan lebih aman untuk ditinggali dalam jangka panjang.
Meski demikian, penting dipahami bahwa Gentengisasi bukan program bantuan terpisah yang otomatis diberikan kepada semua pemilik rumah beratap seng. Konsep tersebut menjadi bagian dari program bedah rumah melalui Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), sehingga penerimanya tetap harus memenuhi syarat dan melalui proses verifikasi sesuai ketentuan pemerintah.
Bagi masyarakat yang rumahnya masih masuk kategori tidak layak huni, program ini menjadi harapan untuk mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik. Sementara bagi pelaku usaha lokal seperti pengrajin genteng, toko material bangunan, hingga tukang konstruksi, meningkatnya jumlah renovasi rumah juga membuka peluang ekonomi yang tidak kecil.
Ke depan, keberhasilan Gentengisasi tidak hanya diukur dari berapa banyak atap seng yang berhasil diganti. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana program tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mengurangi jumlah rumah tidak layak huni, sekaligus menggerakkan ekonomi daerah melalui pembangunan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Referensi
- Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI – Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS)
https://pkp.go.id - Kementerian PUPR (Arsip Program BSPS)
https://pu.go.id - Detik Properti – Kuota Bedah Rumah Tahun Depan Ada 400 Ribu Unit, Ini Syarat Penerimanya
https://www.detik.com/properti/berita/d-8205732/kuota-bedah-rumah-tahun-depan-ada-400-ribu-unit-ini-syarat-penerimanya - Kontan – Kuota 2026 Ditambah, Ini Cara dan Syarat Mendapatkan Bantuan Bedah Rumah Pemerintah
https://nasional.kontan.co.id/news/kuota-2026-ditambah-ini-cara-syarat-mendapatkan-bantuan-bedah-rumah-pemerintah - Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia – Pernyataan Presiden terkait peningkatan kualitas hunian masyarakat
https://setneg.go.id












