goribihotao – Jepang sepertinya belum puas setelah berhasil membawa pulang batu dari asteroid yang jaraknya ratusan juta kilometer dari Bumi.
Setelah Hayabusa dan Hayabusa2, negara yang terkenal dengan teknologi robotika tersebut sekarang menyiapkan perjalanan yang jauh lebih ambisius. Tujuannya adalah lingkungan Mars.
Bukan sekadar datang, mengambil foto, lalu pulang.
Jepang ingin mengirim pesawat ruang angkasa ke Mars, menghabiskan waktu bertahun-tahun di sana, mendarat di salah satu satelit alaminya, mengambil tanah dan batu, kemudian membawa material tersebut kembali ke Bumi.
Nama misinya adalah Martian Moons eXploration atau MMX.
Dan kalau semuanya berjalan sesuai rencana, perjalanan itu akan dimulai dalam waktu kurang dari dua bulan.
JAXA atau Japan Aerospace Exploration Agency pada 20 Agustus 2026 secara resmi menetapkan jadwal peluncuran MMX pada 20 Oktober 2026 pukul 04.41.03 waktu Jepang dari Tanegashima Space Center. Jika dikonversikan ke waktu Indonesia bagian barat, peluncuran tersebut dijadwalkan berlangsung sekitar 02.41 WIB pada 20 Oktober 2026.
MMX akan dibawa menggunakan roket H3 Flight No.10.
Kalau perjalanan itu berhasil, Jepang bukan hanya akan menambah satu wahana lagi di sekitar Mars.
MMX berpotensi melakukan sesuatu yang belum pernah berhasil dilakukan manusia sebelumnya: membawa sampel langsung dari Phobos, salah satu bulan Mars, kembali ke Bumi.
Menariknya, misi ini juga bisa membantu menjawab pertanyaan yang selama puluhan tahun membuat ilmuwan penasaran.
Phobos itu sebenarnya dari mana?
Apakah ia asteroid yang kebetulan tertangkap gravitasi Mars?
Atau serpihan Mars yang tercipta setelah sebuah benda raksasa menghantam planet merah miliaran tahun lalu?
Jawabannya mungkin tersimpan dalam beberapa gram debu yang sedang diburu Jepang.
Jepang Resmi Jadwalkan Misi MMX pada Oktober 2026
Kalau hanya melihat namanya, Martian Moons eXploration terdengar seperti misi eksplorasi biasa.
Namun MMX sebenarnya merupakan salah satu proyek eksplorasi antariksa paling kompleks yang pernah dikerjakan Jepang.
JAXA menyebut MMX sebagai misi pertama di dunia yang berupaya melakukan sample return dari wilayah Mars.
Target peluncurannya sekarang sudah sangat spesifik.
JAXA mengumumkan pada 20 Agustus 2026 bahwa pesawat ruang angkasa MMX akan diluncurkan dengan H3 Flight No.10 pada 20 Oktober 2026 pukul 04.41.03 JST.
Sebelumnya, jadwal publik masih disebut secara lebih luas sebagai tahun fiskal Jepang 2026.
Kini jam keberangkatannya bahkan sudah ditentukan sampai hitungan detik.
Kalau tidak ada perubahan karena cuaca, masalah teknis atau faktor operasional lainnya, pagi hari di Tanegashima itu akan menjadi awal perjalanan sekitar lima tahun.
Pesawat tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar satu tahun untuk mencapai wilayah Mars.
Dengan kata lain, MMX kemungkinan baru tiba di sekitar planet merah pada 2027.
Dan setelah sampai, pekerjaannya justru baru dimulai.
Bukan Mendarat di Mars, Jepang Justru Mengincar Phobos
Ada satu hal yang perlu diluruskan ketika kita mengatakan “Jepang menyiapkan misi ke Mars”.
MMX memang pergi menuju sistem Mars, tetapi pesawat utamanya tidak dirancang untuk mendarat di permukaan planet Mars.
Target utama Jepang adalah Phobos.
Mars memiliki dua satelit alami berukuran kecil, Phobos dan Deimos.
Dibandingkan bulan kita, keduanya terlihat seperti kerikil luar angkasa.
Phobos adalah yang terbesar sekaligus paling dekat dengan Mars.
Bentuknya juga jauh dari sempurna.
Kalau Bulan terlihat seperti bola besar ketika dipandang dari Bumi, Phobos lebih mirip batu kentang raksasa yang penuh kawah.
Namun benda kecil inilah yang membuat ilmuwan begitu penasaran.
MMX akan mengamati Phobos secara detail, mempelajari bentuk permukaan, struktur internal, komposisi dan gravitasinya. Wahana kemudian akan turun menuju permukaan untuk mengambil sampel batu dan material tanah.
JAXA menargetkan MMX membawa pulang lebih dari 10 gram material Phobos.
Sepuluh gram mungkin terdengar sangat sedikit.
Kalau membeli kopi bubuk, jumlah seperti itu bahkan belum tentu cukup untuk satu gelas yang strong.
Tetapi untuk material yang harus diterbangkan dari lingkungan Mars menuju Bumi, 10 gram adalah harta karun.
Mengapa Phobos Begitu Penting?
Pertanyaan mengenai asal-usul Phobos ternyata belum mempunyai jawaban pasti.
Ada dua teori besar.
Teori pertama mengatakan Phobos dan Deimos pada awalnya merupakan asteroid dari luar wilayah Mars yang kemudian tertangkap gravitasi planet tersebut.
Kalau hipotesis ini benar, material Phobos bisa berisi jejak material primitif dari bagian lain Tata Surya.
Teori lainnya mempunyai cerita jauh lebih dramatis.
Mars mungkin pernah dihantam benda langit berukuran sangat besar pada masa awal pembentukannya.
Tabrakan tersebut melemparkan material ke orbit Mars. Puing-puing kemudian berkumpul dan akhirnya membentuk Phobos serta Deimos.
Kedengarannya sedikit mirip salah satu teori pembentukan Bulan Bumi.
Selama ini pengamatan jarak jauh belum cukup untuk memberikan jawaban final.
Spektrum Phobos mempunyai karakteristik yang bisa mendukung gagasan asteroid, sementara bentuk orbitnya justru dapat mendukung teori pembentukan dari puing di sekitar Mars.
MMX datang untuk menjadi semacam detektif luar angkasa.
Dengan membawa material asli Phobos ke laboratorium di Bumi, ilmuwan bisa melakukan analisis jauh lebih detail daripada hanya mengandalkan instrumen yang berada ratusan juta kilometer jauhnya.
Sampel Phobos Bisa Menyimpan Jejak Mars
Bagian menarik lainnya adalah Phobos mungkin tidak hanya menyimpan cerita tentang dirinya sendiri.
Karena berada sangat dekat dengan Mars, permukaan Phobos selama miliaran tahun kemungkinan menerima material yang terlempar dari Mars akibat tumbukan meteorit.
Bayangkan sebuah asteroid menghantam Mars.
Material permukaan Mars terpental ke luar angkasa.
Sebagian kecil mungkin kemudian jatuh ke Phobos.
Artinya, ketika Jepang mengambil debu Phobos, ada kemungkinan di dalam sampel tersebut terdapat partikel yang sebenarnya berasal dari Mars.
Secara sederhana, Jepang mungkin mendapatkan sedikit “bonus Mars” tanpa harus mengambil sampel langsung dari permukaan planet merah.
Itulah salah satu alasan misi ini sangat menarik secara ilmiah.
MMX Bisa Mengalahkan Semua Misi dalam Membawa Material dari Sistem Mars
Manusia sudah mengirim banyak robot ke Mars.
Ada Viking.
Ada Pathfinder.
Ada Spirit dan Opportunity.
Ada Curiosity.
Ada Perseverance.
Ada pula berbagai orbiter dari Amerika Serikat, Eropa, India, China dan negara lainnya.
Namun ada satu pekerjaan yang sampai sekarang belum berhasil dilakukan.
Membawa material dari sistem Mars kembali ke Bumi.
Perseverance milik NASA memang sudah mengumpulkan dan menyimpan sampel batu Mars dalam tabung khusus. Tetapi proyek Mars Sample Return Amerika Serikat dan Eropa menghadapi persoalan biaya, desain serta jadwal yang terus berubah.
Sementara Jepang mengambil jalur berbeda.
Alih-alih langsung turun ke Mars dan harus menghadapi gravitasi planet tersebut, MMX menuju Phobos yang gravitasinya sangat kecil.
Kalau berhasil membawa sampel kembali pada 2031, MMX dapat menjadi misi pertama dalam sejarah manusia yang mengembalikan material dari wilayah Mars ke Bumi. JAXA secara eksplisit menyebutnya sebagai world-first sample return mission dari Mars region.
Ini semacam jalan memutar yang justru bisa membuat Jepang tiba lebih dulu.
Perjalanan MMX Akan Berlangsung Sekitar Lima Tahun
Kalau sebuah misi luar angkasa mempunyai satu bagian paling melelahkan, mungkin jawabannya adalah menunggu.
MMX dijadwalkan berangkat Oktober 2026.
Setelah diluncurkan dari Tanegashima, pesawat akan menghabiskan sekitar satu tahun perjalanan menuju Mars.
Target kedatangannya berada pada 2027.
Setelah itu MMX tidak langsung menyentuh Phobos.
Pesawat akan memasuki Quasi-Stationary Orbit atau QSO di sekitar satelit Mars tersebut dan melakukan berbagai observasi.
Periode eksplorasi di sistem Mars direncanakan berlangsung kurang lebih tiga tahun, dari 2027 sampai 2030.
Pada periode inilah sebagian besar pekerjaan dilakukan.
MMX akan mengobservasi Phobos, mempelajari Deimos, menurunkan rover kecil, menentukan lokasi pengambilan sampel, melakukan pendaratan dan mengumpulkan material.
Pada 2030, pesawat dijadwalkan meninggalkan wilayah Mars.
Perjalanan pulang kembali membutuhkan sekitar satu tahun.
Kemudian pada tahun fiskal 2031, kapsul re-entry yang membawa sampel akan dipisahkan dari pesawat utama dan masuk ke atmosfer Bumi.
Rencananya kapsul tersebut akan mendarat dan diambil di Australia.
Jadi orang yang menyaksikan MMX berangkat pada Oktober nanti harus menunggu sampai sekitar 2031 sebelum mengetahui apakah kapsul berisi batu Phobos benar-benar kembali dengan selamat.
MMX Membawa Rover Mini Bernama IDEFIX
Jepang tidak mengerjakan misi ini sendirian.
MMX merupakan proyek internasional yang dipimpin JAXA dengan partisipasi NASA dari Amerika Serikat, CNES dari Prancis, DLR dari Jerman dan European Space Agency atau ESA.
Salah satu elemen paling menarik adalah rover mini bernama IDEFIX.
Namanya mungkin langsung mengingatkan sebagian orang pada anjing kecil dalam komik Asterix.
Rover ini dikembangkan bersama oleh badan antariksa Prancis CNES dan pusat antariksa Jerman DLR.
IDEFIX mempunyai satu pekerjaan yang sangat penting.
Sebelum pesawat utama MMX mencoba mengambil sampel, rover akan dilepaskan menuju permukaan Phobos.
Ia akan menjelajahi lingkungan sekitar sekaligus membantu ilmuwan memahami karakter permukaannya.
Informasi tersebut berguna karena mendarat di Phobos bukan seperti mendarat di lapangan kosong.
Gravitasi Phobos sangat kecil.
Salah mengatur gerakan sedikit saja bisa menyebabkan wahana memantul atau kehilangan kontak dengan permukaan.
Karena itu IDEFIX bisa dianggap sebagai scout kecil yang dikirim lebih dulu sebelum pesawat utama melakukan pekerjaan paling berisiko.
MMX Akan Mencoba Mendarat di Phobos
Inilah salah satu bagian yang membuat misi Jepang sangat berbeda dari sekadar orbiter Mars.
MMX dirancang untuk benar-benar turun ke Phobos.
JAXA sebelumnya menjelaskan bahwa wahana tersebut diproyeksikan melakukan hingga dua upaya pendaratan pada satelit itu selama operasinya.
Bayangkan tantangannya.
Phobos bergerak mengorbit Mars hanya dalam hitungan jam.
Bentuk gravitasinya tidak sederhana.
Permukaannya belum pernah dipelajari dari jarak sangat dekat oleh misi yang benar-benar mendarat dan mengambil sampel.
Pesawat harus mendekat perlahan.
Sistem navigasi harus mengenali permukaan.
Kecepatan harus dikontrol.
Kemudian mekanisme sampling harus bekerja.
Setelah mendapatkan material, pesawat harus meninggalkan Phobos dan akhirnya kembali menuju Bumi.
Tidak ada teknisi yang bisa datang membawa obeng kalau salah satu bautnya macet.
Semua harus dilakukan dari jarak ratusan juta kilometer.
Jepang Memakai Ilmu dari Hayabusa dan SLIM
Untungnya, Jepang tidak benar-benar memulai dari nol.
Kalau urusannya mengambil batu dari benda kecil di Tata Surya lalu membawanya pulang, Jepang punya CV yang lumayan panjang.
Misi Hayabusa berhasil mengembalikan partikel asteroid Itokawa ke Bumi pada 2010.
Kemudian Hayabusa2 pergi ke asteroid Ryugu, mengambil sampel dan mengirim kapsulnya kembali ke Bumi pada 2020.
Ryugu berada sekitar 300 juta kilometer dari Bumi pada sebagian lintasannya.
Kesuksesan Hayabusa2 memberi Jepang pengalaman penting dalam navigasi dekat benda kecil, operasi sampling, perjalanan antarplanet dan pengembalian kapsul.
MMX mengambil pengalaman tersebut dan menaikkan tingkat kesulitannya.
JAXA sendiri mengatakan konsep sample return MMX mempunyai hubungan dengan pengalaman Hayabusa2.
Bukan hanya Hayabusa.
Teknologi dari misi pendarat Bulan Jepang SLIM juga menjadi modal.
SLIM berhasil mendemonstrasikan teknologi pendaratan presisi tinggi di Bulan pada 2024.
MMX akan menggunakan teknologi navigasi berbasis gambar yang dikembangkan dari pengalaman SLIM untuk membantu operasi pendaratan.
Jadi kalau MMX terlihat seperti proyek baru, sebenarnya di dalamnya ada DNA dari beberapa misi Jepang sebelumnya.
Pesawat MMX Sudah Sampai di Tanegashima
Misi ini juga sudah jauh melewati tahap gambar konsep di PowerPoint.
Pesawat ruang angkasa MMX yang sebenarnya sudah berada di lokasi peluncuran.
JAXA mengumumkan bahwa spacecraft tersebut meninggalkan fasilitas Mitsubishi Electric di Kamakura pada 28 Maret 2026.
Pesawat kemudian dibawa menggunakan kapal khusus menuju Pulau Tanegashima dan tiba di Shimama Port pada 31 Maret.
Setelah itu MMX dipindahkan menuju fasilitas pengujian dan perakitan di Tanegashima Space Center untuk menjalani rangkaian persiapan menjelang peluncuran.
Pembuatan dan integrasi sistem pesawat dilakukan Mitsubishi Electric.
Jadi ketika JAXA sekarang berbicara soal tanggal 20 Oktober, ini bukan lagi sekadar target jangka panjang.
Hardware-nya sudah ada di Tanegashima.
Roketnya sudah mempunyai nomor penerbangan.
Jam peluncurannya sudah diumumkan.
Tinggal memastikan semua sistem siap ketika countdown dimulai.
Roket H3 Jadi Kunci Keberangkatan MMX
MMX akan meninggalkan Bumi menggunakan H3, roket generasi baru Jepang.
Hubungan antara MMX dan H3 mempunyai sejarah yang sedikit dramatis.
MMX awalnya direncanakan meluncur lebih awal, sekitar 2024.
Namun program mengalami penundaan, salah satunya berkaitan dengan perkembangan dan jadwal H3 setelah penerbangan perdana roket tersebut pada 2023 mengalami kegagalan.
JAXA akhirnya menggeser MMX ke jendela berikutnya pada 2026.
Penundaan dua tahun mungkin terdengar lama.
Tetapi dalam misi Mars, terlambat sedikit bukan berarti bisa berangkat minggu depan.
Posisi Bumi dan Mars berubah terus.
Peluncuran antarplanet memanfaatkan konfigurasi orbital tertentu agar kebutuhan energi tidak terlalu besar.
Kalau melewatkan jendelanya, menunggu bisa membutuhkan waktu sekitar dua tahun lagi.
Itulah mengapa Oktober 2026 sangat penting.
Space.com mencatat MMX mengalami penundaan sekitar 26 bulan dibandingkan rencana sebelumnya setelah persoalan yang berhubungan dengan pengembangan H3.
Kini situasinya berubah.
H3 telah menjalani sejumlah penerbangan lanjutan, termasuk sukses meluncurkan satelit navigasi Michibiki-7 pada 11 Agustus 2026. JAXA menyatakan satelit tersebut berhasil dipisahkan dan ditempatkan pada orbit yang ditargetkan.
Penerbangan berikutnya yang membawa MMX akan menjadi salah satu ujian terpenting H3.
Misi Jepang Bukan Sekadar Berburu Batu Mars
Dari luar, MMX terdengar seperti misi mengambil batu.
Pergi.
Ambil sampel.
Pulang.
Selesai.
Tetapi tujuan sebenarnya jauh lebih luas.
JAXA ingin memahami bagaimana sistem Mars terbentuk dan berevolusi.
Kalau Phobos merupakan asteroid yang ditangkap, materialnya dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana benda dari bagian luar Tata Surya berpindah menuju planet berbatu.
Hal ini berhubungan langsung dengan salah satu misteri terbesar pembentukan Tata Surya: dari mana air dan molekul organik yang memungkinkan lingkungan layak huni berasal?
Sebaliknya, kalau Phobos terbentuk akibat tabrakan besar di Mars, materialnya memberikan petunjuk mengenai sejarah geologis awal planet tersebut.
Dua kemungkinan.
Dua cerita Tata Surya yang sangat berbeda.
Dan jawabannya mungkin bisa ditemukan dari struktur mineral serta isotop beberapa gram debu Phobos.
MMX Juga Mempersiapkan Jepang untuk Eksplorasi Mars di Masa Depan
Ada tujuan teknologi yang tidak kalah penting.
JAXA mengatakan MMX digunakan untuk membangun teknologi perjalanan pulang-pergi antara Bumi dan wilayah Mars, teknik sampling benda langit serta teknologi komunikasi deep space.
Ini penting karena dalam roadmap jangka panjang, Jepang tidak hanya tertarik pada robot.
Mars merupakan salah satu tujuan besar eksplorasi manusia setelah Bulan.
Phobos bahkan sering dibicarakan sebagai lokasi menarik untuk mendukung eksplorasi manusia karena gravitasinya sangat kecil dan posisinya dekat Mars.
JAXA mencantumkan pencarian kawasan yang dapat berguna bagi basis untuk misi Mars berawak masa depan sebagai bagian dari konteks eksplorasi MMX.
Jadi MMX bukan tiket Jepang mengirim manusia ke Mars tahun depan.
Tetapi teknologi yang dipelajari dari misi tersebut bisa menjadi salah satu batu loncatan ke sana.
Jepang Punya Strategi Berbeda dalam Perlombaan Mars
Kalau Amerika Serikat mempunyai Perseverance dan rencana Mars Sample Return, China mempunyai Tianwen, sementara berbagai negara mengembangkan orbiter dan lander Mars, Jepang memilih ceruk yang belum banyak disentuh.
Phobos.
Strateginya cukup pintar.
Daripada berkompetisi mengirim rover lain ke permukaan Mars, Jepang memilih objek yang masih menyimpan misteri besar tetapi relatif sedikit dieksplorasi secara langsung.
Rusia sebenarnya pernah mencoba melakukan sample return Phobos melalui misi Phobos-Grunt pada 2011.
Namun wahana tersebut gagal meninggalkan orbit Bumi dan akhirnya jatuh kembali.
Kini Jepang mengambil tantangan yang belum berhasil diselesaikan itu.
Jika MMX berhasil, Phobos akan masuk daftar objek Tata Surya yang materialnya pernah disentuh langsung oleh ilmuwan di laboratorium Bumi.
Oktober 2026 Bisa Jadi Awal Sejarah Baru Eksplorasi Mars
Pada akhirnya, MMX mungkin tidak memiliki daya tarik visual seperti rover yang berjalan di permukaan Mars sambil mengirim foto panorama planet merah.
Ia juga tidak membawa manusia.
Targetnya bahkan bukan Mars itu sendiri.
Hanya sebuah bulan kecil bernama Phobos.
Tetapi justru dari batu kecil inilah Jepang berusaha membuka salah satu misteri terbesar lingkungan Mars.
Pada 20 Oktober 2026 pukul 04.41.03 waktu Jepang atau sekitar 02.41 WIB, roket H3 Flight No.10 dijadwalkan lepas landas dari Tanegashima Space Center membawa MMX.
Sekitar satu tahun kemudian, pesawat akan mencapai wilayah Mars.
Kemudian selama beberapa tahun, MMX akan mengitari dan mengobservasi Phobos, menurunkan rover IDEFIX, mengamati Deimos, mencoba mendarat dan mengambil sedikitnya sekitar 10 gram material.
Pada 2030, ia mulai pulang.
Jika seluruh rangkaian tersebut berhasil, kapsul berisi material Phobos akan masuk atmosfer Bumi dan mendarat di Australia pada 2031.
Lima tahun perjalanan hanya demi sekantong kecil batu dan debu.
Kedengarannya berlebihan.
Sampai kita ingat bahwa batu tersebut mungkin berusia miliaran tahun dan menyimpan jawaban tentang bagaimana Mars terbentuk, dari mana kedua bulannya berasal, serta bagaimana air dan material organik berpindah di Tata Surya muda.
Hayabusa mengajarkan Jepang cara mengambil debu asteroid.
Hayabusa2 membuktikan mereka bisa melakukannya lagi dengan presisi yang jauh lebih baik.
Sekarang Jepang menaikkan taruhan.
Kali ini mereka tidak sekadar pergi ke sebuah asteroid.
Mereka mengetuk pintu Mars.
Dan kalau kapsul MMX benar-benar kembali pada 2031, beberapa gram debu di dalamnya bisa membuat Jepang menjadi negara pertama yang berhasil membawa material langsung dari lingkungan Mars pulang ke planet kita.
Referensi
JAXA MMX – Martian Moons eXploration, pembaruan 20 Agustus 2026. JAXA menetapkan peluncuran MMX pada 20 Oktober 2026 pukul 04.41.03 JST dan menjelaskan keseluruhan jadwal perjalanan hingga pengembalian sampel pada 2031.
https://www.mmx.jaxa.jp/en/
JAXA – Mission Overview/Mission Flow MMX. Menjelaskan target pengambilan lebih dari 10 gram material Phobos, perjalanan sekitar lima tahun serta tujuan ilmiah dan teknis MMX.
https://www.mmx.jaxa.jp/en/mission/
JAXA Institute of Space and Astronautical Science – “The MMX spacecraft has successfully been delivered to the JAXA Tanegashima Space Center”, 1 April 2026. Memuat informasi kedatangan wahana MMX di Tanegashima menjelang peluncuran.
https://www.isas.jaxa.jp/en/topics/004224.html
JAXA Space Exploration Center – Moon and Mars Exploration Program. Membahas posisi MMX dalam strategi eksplorasi Bulan dan Mars Jepang serta penggunaan misi sebagai landasan teknologi eksplorasi masa depan.
https://www.exploration.jaxa.jp/e/program/
JAXA – MMX Mission Leaflet. Memuat spesifikasi pesawat, penggunaan roket H3, massa sekitar 4.200 kg, teknologi navigasi turunan SLIM dan rencana operasi dekat Phobos.
https://www.exploration.jaxa.jp/assets/img/program/Leaflet_MMX-e_A4.pdf
Space.com – “Japan unveils Mars moon sample-return spacecraft ahead of Oct. 19 launch”, Agustus 2026. Membahas persiapan MMX, rover IDEFIX dan sejarah penundaan misi dari jadwal awal 2024. Perbedaan penyebutan 19 Oktober pada media internasional berasal dari zona waktu; jadwal resmi JAXA adalah 20 Oktober 2026 waktu Jepang.
https://www.space.com/astronomy/mars/japan-unveils-mars-moon-sample-return-spacecraft-ahead-of-oct-19-launch-photos
JAXA – H3 Flight No.9 Launch Result, 11 Agustus 2026. Memuat keberhasilan penerbangan H3 yang meluncurkan Michibiki-7 menjelang penggunaan H3 Flight No.10 untuk MMX.
https://www.jaxa.jp/press/2026/08/20260811-1_j.html