Bayangkan lagi enak-enaknya ngecek jadwal kereta buat weekend trip ke Bandung, tiba-tiba muncul berita KPK ajak naik Whoosh meski proyeknya diselidiki. Bikin mikir dua kali, kan? Tapi coba deh, kita bedah bareng kenapa hal ini justru masuk akal banget di tahun 2025. Soalnya, ada data menarik yang bisa bikin lo lebih paham situasinya.
Per Oktober 2025, jumlah penumpang Whoosh meningkat 6,3% dibanding tahun lalu, dengan total lebih dari 5,1 juta orang yang sudah naik kereta cepat ini sejak Januari 2025. Nah, di tengah angka positif ini, KPK justru mengumumkan lagi penyelidikan dugaan korupsi proyek kereta cepat senilai triliunan rupiah. Gimana ceritanya?
Daftar Isi:
- Penyelidikan KPK Terhadap Proyek Whoosh: Dimulai Sejak Kapan?
- Dugaan Markup Hingga Rp 33 Triliun: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
- Pernyataan Resmi KPK: “Silakan Masyarakat Tetap Naik Whoosh”
- Data Penumpang 2025: Justru Meningkat 6,3% Year-on-Year
- Strategi KCIC: Memisahkan Operasional dari Investigasi
- Respons DPR dan Pengamat: Antara Dukungan dan Kehati-hatian
Penyelidikan KPK Terhadap Proyek Whoosh: Dimulai Sejak Kapan?

Komisi Pemberantasan Korupsi mengonfirmasi bahwa penyelidikan dugaan korupsi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung telah dimulai sejak awal tahun 2025. Ini bukan hal dadakan yang muncul kemarin sore, guys.
Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu menyatakan bahwa kasus ini saat ini sudah berada pada tahap penyelidikan. Artinya, tim KPK sedang mengumpulkan bukti-bukti dan mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak terkait.
Yang menarik, Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menjelaskan bahwa penyelidikan perkara ini sudah dimulai sejak awal tahun dan terus berprogres hingga saat ini. Proses ini memang tertutup untuk umum karena masih dalam tahap pengumpulan data dan bukti, sebelum KPK memutuskan apakah akan dilanjutkan ke tahap penyidikan atau tidak.
Fun fact: Penyelidikan ini baru ramai dibicarakan setelah Mahfud MD, mantan Menko Polhukam, mengungkapkan dugaan markup dalam sebuah video YouTube pada 14 Oktober 2025. Tapi sebenarnya KPK sudah bergerak sejak awal tahun!
Dugaan Markup Hingga Rp 33 Triliun: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Ini dia yang bikin heboh. Menurut perhitungan pihak Indonesia, biaya per satu kilometer kereta Whoosh mencapai 52 juta dolar AS, sementara di China sendiri perhitungannya hanya sekitar 17-18 juta dolar AS – naik tiga kali lipat.
Mari kita hitung: dengan panjang lintasan 142,3 kilometer, selisih biaya sekitar USD 34 juta per kilometer berarti ada potensi pembengkakan biaya sekitar USD 4,8 miliar atau setara Rp 76,8 triliun (dengan kurs Rp 16.000).
Awal pembangunan biaya diestimasi USD 5,5 miliar, kemudian membengkak menjadi USD 5,8 miliar, naik lagi menjadi USD 6,07 miliar, dan akhirnya diperkirakan mencapai maksimal USD 7,97 miliar dengan pembengkakan tambahan USD 1,176-1,9 miliar.
Yang jadi pertanyaan besar: ke mana uang selisih itu mengalir? Siapa yang bertanggung jawab atas keputusan pembengkakan biaya? Ini yang sedang ditelusuri KPK.
Anggota Komisi III DPR RI Abdullah mengingatkan KPK tidak boleh takut dalam menangani kasus ini dan harus mengusut secara tuntas dan transparan. Artinya, tekanan publik untuk transparansi cukup besar.
Pernyataan Resmi KPK: “Silakan Masyarakat Tetap Naik Whoosh”

Nah, ini yang unik dan jadi judul artikel kita. Di tengah penyelidikan dugaan korupsi triliunan rupiah, KPK ajak naik Whoosh meski proyeknya diselidiki. Kok bisa?
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menyampaikan agar masyarakat tetap bisa menggunakan layanan kereta cepat sebagai salah satu mode transportasi. Pernyataan ini disampaikan pada 30 Oktober 2025 di Gedung Merah Putih KPK.
KPK menegaskan bahwa proses hukum yang sedang dijalankan tidak dimaksudkan untuk mengganggu pelayanan publik yang diselenggarakan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) selaku operator utama.
Logika di balik ini cukup simple: masalahnya ada di tahap pembangunan dan dugaan markup anggaran proyek, bukan di operasional kereta saat ini. KPK memastikan penegakan hukum tidak menghambat pelayanan yang dibutuhkan masyarakat.
Analoginya begini: kalau ada dugaan korupsi dalam pembangunan jalan tol, bukan berarti kita harus berhenti pakai jalan tol tersebut, kan? Penyelidikan fokus ke proses pembangunan, bukan ke fungsi pelayanan publiknya.
Data Penumpang 2025: Justru Meningkat 6,3% Year-on-Year
Menariknya, justru di tengah kontroversi ini, data penumpang Whoosh menunjukkan tren positif. Selama sepuluh bulan pertama tahun 2025, layanan Whoosh telah melayani lebih dari 5,1 juta penumpang, meningkat dari 4,8 juta penumpang pada periode yang sama di tahun 2024. Artinya ada kenaikan 6,3% year-on-year.
Secara kumulatif, sejak beroperasi secara komersial pada Oktober 2023, Whoosh telah melayani lebih dari 12,2 juta penumpang. Angka yang cukup impresif untuk kereta cepat pertama di Asia Tenggara!
Faktor-faktor pendorong peningkatan:
Penambahan jadwal perjalanan menjadi 62 perjalanan per hari, hadirnya Stasiun Karawang yang menambah konektivitas antarwilayah, dan konektivitas antarmoda yang semakin baik.
Dengan kapasitas angkut mencapai 16-18 ribu penumpang per hari, kereta cepat Whoosh kini menjadi salah satu moda transportasi unggulan yang menghubungkan Jakarta dan Bandung dengan waktu tempuh hanya sekitar 40-45 menit.
Data ini menunjukkan bahwa masyarakat tetap percaya pada layanan Whoosh untuk mobilitas harian mereka, terlepas dari kontroversi yang melingkupi proyeknya.
Strategi KCIC: Memisahkan Operasional dari Investigasi
PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebagai operator tampaknya menjalankan strategi “business as usual” dengan tetap fokus pada peningkatan layanan.
General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa menyatakan bahwa kenaikan jumlah penumpang menjadi bukti masyarakat semakin mempercayai layanan Kereta Cepat Whoosh sebagai moda transportasi cepat dan andalan untuk mobilitas antara Jakarta dan Bandung.
Setiap stasiun Whoosh kini terhubung dengan berbagai moda transportasi seperti LRT, kereta feeder, kereta komuter, bus, shuttle, taksi, hingga layanan angkutan daring yang memudahkan mobilitas penumpang.
KCIC juga tetap melanjutkan program-program peningkatan layanan:
- Frekuensi keberangkatan setiap 30 menit di jam sibuk
- Integrasi dengan berbagai moda transportasi publik
- Program loyalitas Frequent Whoosher Card (FWC)
- Ekspansi konektivitas ke destinasi wisata dan bisnis
Strategi ini menunjukkan komitmen untuk menjaga kepercayaan publik terhadap layanan operasional, terlepas dari proses hukum yang sedang berjalan terhadap proyek pembangunannya.
Respons DPR dan Pengamat: Antara Dukungan dan Kehati-hatian
Anggota Komisi III DPR RI Abdullah menegaskan bahwa KPK tidak boleh takut dan harus menindaklanjuti setiap temuan pelanggaran, serta tidak boleh tebang pilih jika menemukan adanya indikasi pelanggaran yang dilakukan pihak-pihak tertentu.
Ia menilai keseriusan dan keberanian KPK dalam menangani perkara ini penting dilakukan untuk menjawab keresahan publik. Artinya, ada ekspektasi tinggi dari DPR bahwa penyelidikan ini harus tuntas dan transparan.
Sementara itu, dari sisi akademisi dan pengamat transportasi, ada kehati-hatian dalam menyikapi isu ini. Mereka menilai penting untuk memisahkan antara:
- Aspek hukum: Dugaan korupsi dalam proses pembangunan yang harus diusut tuntas
- Aspek operasional: Layanan transportasi publik yang harus tetap berjalan
- Aspek ekonomi: Dampak proyek terhadap konektivitas dan pertumbuhan ekonomi regional
Yang menarik, belum ada seruan dari pihak manapun untuk menghentikan operasional Whoosh. Fokusnya tetap pada investigasi proses pembangunan dan transparansi penggunaan anggaran.
Baca Juga Tarif BPJS Kesehatan Baru 2025: Fakta Terbaru yang Wajib Kamu Tahu!
Tetap Naik, Tetap Waspada, Tetap Berharap
Jadi, apakah kita harus takut naik Whoosh? Enggak juga. KPK ajak naik Whoosh meski proyeknya diselidiki bukan tanpa alasan. Penyelidikan fokus pada proses pembangunan dan dugaan markup, bukan pada keamanan atau kualitas layanan operasional.
Data menunjukkan 5,1 juta orang sudah mempercayai Whoosh dalam 10 bulan pertama 2025, dengan peningkatan 6,3% dibanding tahun sebelumnya. Ini bukti bahwa layanan transportasi publiknya berjalan baik.
Yang perlu kita lakukan sebagai masyarakat:
- Tetap gunakan layanan publik yang bermanfaat buat mobilitas kita
- Tetap waspada dan mengawasi perkembangan investigasi KPK
- Tetap berharap proses hukum berjalan tuntas dan transparan
Karena pada akhirnya, kereta cepat ini dibangun untuk rakyat. Kalau ada yang salah dalam prosesnya, harus diungkap. Tapi layanan untuk rakyat juga harus tetap jalan.
Pertanyaan untuk readers: Dari 6 poin data faktual yang udah kita bahas, mana yang paling bikin lo merasa lebih tenang (atau justru lebih khawatir) buat naik Whoosh? Share di kolom komentar, yuk! 🚄
Artikel ini disusun berdasarkan data resmi dari KPK, PT KCIC, dan berbagai sumber media terpercaya per Oktober 2025. Semua angka dan pernyataan telah diverifikasi kebenarannya.